Pedagang Indonesia
[MIRZA ABDUROZAK]
[MIRZA ABDUROZAK]
Seorang
Tukang Cendol bersiap menjajakan dagangannya berkeliling kota. ia
mendorong gerobaknya menuju taman kota. Hari ini hari minggu pagi,dimana
orang-orang berolahraga di taman kota. Si tukang cendol berharap
orang-orang membeli cendolnya yang segar.
Di
tengah jalan, tiba-tiba turun hujan. Si Tukang Cendol memutuskan untuk
beristirahat sejenak di bawah pohon sebelum melanjutkan perjalanan
menuju taman kota. Sambil menunggu hujan reda, ia duduk dibawah pohon.
Kakinya disandarkan pada gerobaknya. Si Tukang Cendol berkhayal bahwa
hujan akan segera reda dan orang-orang akan berebut membeli daganganya.
Ia
membayangkan daganganya akan laris manis. Ia pun mengumpulkan uang
untuk membeli kambing dan berhenti berjualan cendol yang untungnya cuma
sedikit. Tak sampai setahun, kambingnya berkembang pesat. Ia pun menjual
kambingnya dan membelikan sapi. Sapinya berkembang pesat dan laris
manis, terutama menjelang Idul Adha dan Idul Fitri. Si Tukang Cendol pun
kaya raya dalam sekejap.
Karena
lelah dan mengantuk , ia pun tertidur dengan kedua kaki bertumpu pada
badan gerobaknya. Rupanya, khayalannya terbawa kedalam mimpi. dalam
mimpinya, Tukang Cendol yang telah menjadi seorang saudagar itu
mengunjungi villanya di Bali. Ia membeli seekor kuda jantan seharga
Rp1.000.000.000,00. dengan penuh kebanggaan, ia pun bersiap menunggangi
kudanya.
Tapi
apa hendak dikata, tiba-tiba kudanya meringkik kaget sehingga Si Tukang
Cendol terjungkal dan jatuh ke tanah. dengan penuh amarah, ia menendang
badan kudanya sekuat tenaga.
“Praaaang…!!”
Si
Tukang Cendol tersentak bangun. Ia kaget melihat pemandangan mengerikan
dihadapannya. Gerobaknya terjatuh di tanah. Piring dan gelas pecah.
cendol-cendolnya berhamburan di tanah. habis sudah rezekinya hari itu,
bahkan sebelum dimulai.