Senin, 21 Desember 2015

teks anekdot

Pedagang Indonesia 
[MIRZA ABDUROZAK] 

            Seorang Tukang Cendol bersiap menjajakan dagangannya berkeliling kota. ia mendorong gerobaknya menuju taman kota. Hari ini hari minggu pagi,dimana orang-orang berolahraga di taman kota. Si tukang cendol berharap orang-orang membeli cendolnya yang segar.
            Di tengah jalan, tiba-tiba turun hujan. Si Tukang Cendol memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon sebelum melanjutkan perjalanan menuju taman kota. Sambil menunggu hujan reda, ia duduk dibawah pohon. Kakinya disandarkan pada gerobaknya. Si Tukang Cendol berkhayal bahwa hujan akan segera reda dan orang-orang akan berebut membeli daganganya.
            Ia membayangkan daganganya akan laris manis. Ia pun mengumpulkan uang untuk membeli kambing dan berhenti berjualan cendol yang untungnya cuma sedikit. Tak sampai setahun, kambingnya berkembang pesat. Ia pun menjual kambingnya dan membelikan sapi. Sapinya berkembang pesat dan laris manis, terutama menjelang Idul Adha dan Idul Fitri. Si Tukang Cendol pun kaya raya dalam sekejap.
            Karena lelah dan mengantuk , ia pun tertidur dengan kedua kaki bertumpu pada badan gerobaknya. Rupanya, khayalannya terbawa kedalam mimpi. dalam mimpinya, Tukang Cendol yang telah menjadi seorang saudagar itu mengunjungi villanya di Bali. Ia membeli seekor kuda jantan seharga Rp1.000.000.000,00. dengan penuh kebanggaan, ia pun bersiap menunggangi kudanya.
            Tapi apa hendak dikata, tiba-tiba kudanya meringkik kaget sehingga Si Tukang Cendol terjungkal dan jatuh ke tanah. dengan penuh amarah, ia menendang badan kudanya sekuat tenaga.
            “Praaaang…!!”
            Si Tukang Cendol tersentak bangun. Ia kaget melihat pemandangan mengerikan dihadapannya. Gerobaknya terjatuh di tanah. Piring dan gelas pecah. cendol-cendolnya berhamburan di tanah. habis sudah rezekinya hari itu, bahkan sebelum dimulai.

2 komentar: